BOGOR,KLIKWARTA.ID — Riset kelautan dan perikanan tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut benar-benar menjawab kebutuhan pembudi daya dan dapat diterapkan di lapangan.
Semangat itu menjadi fokus Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDMKP) saat menjajaki kerja sama dengan Yellow Sea Fisheries Research Institute (YSFRI), Tiongkok, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penjajakan dilakukan di Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026), dengan diawali kunjungan langsung ke kelompok pembudi daya ikan di Cikaret dan instalasi BRPBATPP di Cijeruk. Turun ke lapangan menjadi langkah untuk melihat kebutuhan teknologi sekaligus memetakan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) secara lebih konkret.
Bukan Sekadar Bertukar Riset
YSFRI membawa pengalaman dalam riset kelautan dan perikanan, khususnya marine culture. Keahlian tersebut membuka ruang pertukaran pengetahuan sekaligus peluang pengembangan teknologi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelaku utama di lapangan.
Penjajakan kerja sama tidak berhenti pada pertukaran hasil riset. Pembahasannya mencakup pengembangan pelatihan, demonstrasi teknologi, hingga replikasi praktik yang telah berhasil agar manfaatnya dapat diterapkan di lebih banyak lokasi.
Bagi BPPSDMKP, kolaborasi ini juga menjadi peluang memperkuat pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan sertifikasi dengan dukungan inovasi serta teknologi yang dapat diterapkan langsung.
Targetnya jelas: hasil riset harus punya jalan menuju lapangan.
Dari Laboratorium Menuju Pembudi Daya
Kehadiran BRIN dalam penjajakan tersebut mempertemukan kekuatan riset dengan kebutuhan pengembangan SDM sektor kelautan dan perikanan.
Sinergi tersebut diharapkan mampu mempertemukan pengetahuan, teknologi, dan kompetensi dalam satu rangkaian. Dengan begitu, inovasi yang dikembangkan memiliki peluang lebih besar untuk diadaptasi sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Kerja sama dengan mitra dari Tiongkok ini juga melanjutkan kolaborasi yang telah dibangun sebelumnya. Salah satunya dengan First Institute of Oceanography, Ministry of Natural Resources, melalui MoU yang ditandatangani pada 2025.
Ujungnya Bukan MoU, tapi Manfaat
Ke depan, sinergi riset, pendidikan, pelatihan, penyuluhan hingga sertifikasi diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan.
Arah akhirnya adalah teknologi yang diterapkan, SDM yang semakin kompeten, serta produktivitas perikanan budi daya yang meningkat.
Kolaborasi BPPSDMKP, YSFRI, dan BRIN pun diharapkan menjadi jembatan dari pengetahuan menuju praktik. Inovasi yang lahir dari riset didorong agar dapat digunakan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kelautan dan perikanan.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah inovasi bukan hanya seberapa canggih teknologi yang dihasilkan, tetapi seberapa jauh teknologi itu mampu menjawab persoalan di lapangan dan meningkatkan kapasitas orang yang menggunakannya.
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI
Sakti Wahyu Trenggono
#SobatBahari #KKPGOID #SaktiWahyuTrenggono #SDMKP #SDMUnggul
“Riset boleh lahir di laboratorium, tetapi manfaatnya harus sampai ke tambak, kolam, dan tangan masyarakat.” (*)






