-->

Krisis Air Mengintai Bone, Cinnong Nyaris Nol! Bupati Andi Asman Siapkan 10 Titik Bone

BONE,KLIKWARTA.ID  — Ancaman krisis air baku mulai membayangi Kabupaten Bone. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah sumber air andalan Perumda Air Minum Wae Manurung mengalami penurunan debit secara signifikan.

Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi pada sumber air Cinnong. Saat musim kering, produksinya disebut nyaris menyentuh titik nol. Dampaknya, hampir 1.000 pelanggan di kawasan perkotaan disebut tidak lagi mendapatkan pelayanan air dari sumber tersebut.

Kondisi ini menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Bone. Pemerintah daerah bersama jajaran Perumda Air Minum Wae Manurung kini menyiapkan langkah antisipasi melalui pencarian sumber air baru, termasuk opsi pengeboran air tanah berskala besar di kawasan perkotaan.

Rencana tersebut mengemuka dalam pembahasan Rencana Bisnis Perumda Air Minum Wae Manurung 2026-2030, Kamis (3/9/2026).

Pertemuan dipimpin langsung Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, dan dihadiri Direktur Perumda Air Minum Wae Manurung Muh. Bachtiar Sairing, Komisaris Perumda Ir. Andi Promal Pawi, ST., M.Si., serta sejumlah kepala OPD lingkup Pemkab Bone.

Cinnong Nyaris Tak Lagi Mengalir

Direktur Perumda Air Minum Wae Manurung, Muh. Bachtiar Sairing, mengungkap kondisi sumber air baku yang menjadi tantangan serius perusahaan.

“Dua tahun terakhir ini sangat luar biasa yang kami alami, penurunan air baku, baik yang bersumber dari sungai maupun mata air,” kata Bachtiar.

Menurutnya, saat ini hanya IKK Taretta dan IKK Waempubbu yang masih dinilai memiliki ketersediaan air baku relatif besar dan cukup andal.

Keduanya berada di Kecamatan Amali. Namun, lokasinya cukup jauh dari pusat Kota Watampone sehingga membutuhkan dukungan infrastruktur apabila hendak dimanfaatkan untuk memperkuat pasokan perkotaan.

Di sisi lain, kondisi sumber air Cinnong justru semakin kritis.

“Kondisi sekarang ini hampir dikatakan produksinya nol. Apalagi di masa kering sekarang ini. Sudah hampir 1.000-an pelanggan yang dilayani di kota bisa dikatakan tidak ada yang terlayani,” ungkap Bachtiar.

Wollangi Juga Anjlok, dari 120 Jadi di Bawah 40 Liter per Detik

Ancaman tidak hanya datang dari Cinnong.

Sumber air Wollangi juga mengalami penurunan debit cukup drastis. Jika sebelumnya debitnya pernah mencapai sekitar 120 liter per detik, kini turun menjadi di bawah 40 liter per detik.

Dalam kondisi yang lebih baik, debit Wollangi masih berada di kisaran 60 liter per detik.

Kemarau panjang disebut menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi tersebut. Selain itu, Bachtiar juga menyebut aktivitas pertambangan yang diduga ilegal turut memengaruhi kondisi sumber air Wollangi.

Penurunan debit tersebut berimbas langsung terhadap kemampuan Perumda memenuhi kebutuhan pelanggan.

Padahal, jumlah penduduk Bone mencapai sekitar 800 ribu jiwa. Namun, cakupan pelayanan air bersih Perumda saat ini baru mendekati 15 persen. “Ini tentu sangat jauh dari yang kita harapkan,” ujarnya.

Kebutuhan Air Pelabuhan Tonra Bisa Tembus 500 Liter per Detik

Persoalan air Bone juga tidak hanya menyangkut kebutuhan rumah tangga.

Sejumlah proyek strategis daerah ke depan diperkirakan membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.

Bachtiar mencontohkan rencana pembangunan pelabuhan di Kecamatan Tonra yang diproyeksikan membutuhkan pasokan air hingga 500 liter per detik.

Berdasarkan koordinasi dengan balai terkait, kebutuhan tersebut disebut hanya memungkinkan dipenuhi dari sumber Sungai Tangka dan Salo Wawo.

“Yang lainnya tidak ada, tidak ada mata air yang bisa mendukung itu,” jelasnya.

Perumda juga telah menjajaki kerja sama dengan investor untuk memanfaatkan Sungai Palakka.

Namun, kapasitas yang dapat dimanfaatkan maksimal sekitar 200 liter per detik. Jumlah itu pun berpotensi turun pada waktu tertentu karena sungai tersebut masih dibutuhkan untuk kepentingan pertanian, terutama ketika musim tanam.

Bupati Andi Asman: Kalau Perlu 10 Titik Bor Dulu

Menghadapi kondisi tersebut, Bupati Bone Andi Asman meminta pencarian sumber air alternatif dilakukan secara cepat dan konkret.

Salah satu opsi yang didorong adalah pengeboran air tanah berskala besar, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi.

Bupati meminta Bagian Sumber Daya Alam (SDA) bersama jajaran teknis Perumda segera melakukan pemetaan.

Dari sekitar 24 kelurahan di kawasan perkotaan, ia mendorong sedikitnya 10 titik terlebih dahulu dikaji untuk menentukan kelayakan pengeboran.

“Kalau bisa di sini ada 24 kelurahan, kalau perlu 10 titik dulu,” tegas Andi Asman.

Konsepnya, air tanah hasil pengeboran nantinya ditampung dalam reservoir, melalui proses penyaringan, kemudian didistribusikan kepada masyarakat.

Bupati bahkan menyatakan kesiapan pemerintah daerah mengalokasikan anggaran apabila lokasi dan sistem pengelolaannya telah disiapkan secara teknis.

“Saya siap untuk memberikan anggaran dana segar, tetapi kesiapan teman-teman untuk menempatkan lokasi untuk boring, kemudian difilter, kemudian kita lakukan distribusi air kepada masyarakat,” katanya.

Ia mencontohkan pengeboran di wilayah Bone-Bone. Pada kedalaman sekitar 20 meter, lokasi tersebut disebut sudah menghasilkan air dan hingga kini masih mengalir.

“Air Nomor Satu, Instalasi Nomor Dua”

Bagi Andi Asman, persoalan paling mendasar yang harus diselesaikan bukan sekadar pembangunan instalasi atau jaringan.

Sumber air harus dipastikan terlebih dahulu.

“Kalau di PDAM itu berbicara air saja. Instalasinya nomor dua. Kalau pertama masalah air,” tegasnya.

Karena itu, Rencana Bisnis Perumda Air Minum Wae Manurung 2026-2030 diminta tidak berhenti sebagai dokumen administratif.

Dokumen tersebut harus menjadi peta jalan untuk memperkuat sumber air, meningkatkan cakupan pelayanan, membangun infrastruktur pendukung, sekaligus membenahi tata kelola perusahaan.

Perumda Dituntut Profesional dan Berkontribusi ke PAD

Selain persoalan sumber air, Bupati juga menyoroti tata kelola Perumda.

Ia meminta seluruh jajaran perusahaan bekerja secara profesional, transparan dan disiplin.

Setiap penanggung jawab wilayah IKK diminta aktif memberikan laporan mengenai kondisi sumber air serta pelayanan di wilayah masing-masing.

Andi Asman juga menyinggung kontribusi Perumda terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dinilai belum sesuai harapan selama bertahun-tahun.

Karena itu, pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sumber air, infrastruktur, pelayanan hingga manajemen perusahaan.

“Saya sudah beri kepercayaan kepada Pak Direktur bahwa hal-hal yang tidak benar ditinggalkan, hal-hal yang benar dilanjutkan,” ujarnya.

Pemkab Bone, kata dia, siap memberikan dukungan anggaran sekaligus memfasilitasi peluang bantuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.

Namun, dukungan tersebut harus diikuti kesiapan Perumda dalam menyusun program yang jelas, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bone Tak Bisa Lagi Menunggu

Dengan cakupan pelayanan air bersih yang baru sekitar 15 persen, sejumlah sumber air yang terus menyusut, serta kebutuhan proyek strategis yang dapat mencapai 500 liter per detik, persoalan air di Bone memasuki fase yang tidak bisa dianggap ringan.

Bagi Pemkab Bone, mencari sumber air baru kini menjadi kebutuhan mendesak.

Pemetaan 10 titik pengeboran di kawasan perkotaan menjadi salah satu langkah awal yang disiapkan untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pasokan air ketika sumber-sumber konvensional semakin tertekan.

“Bagaimana caranya supaya ketika di musim biasa, atau di musim penghujan, dan kemudian kita harus berada pada kemampuan untuk bertahan di musim sekarang ini. Debit yang banyak dengan debit yang kurang tentu kita harus bagaimana bisa mengupayakan, mengantisipasi, dan bagaimana bisa menangani,” pungkas Andi Asman.

Pesannya jelas: sebelum bicara instalasi dan jaringan, Bone harus memastikan airnya ada. Sebab ketika sumber air terus menyusut, setiap tetes bukan lagi sekadar kebutuhan—tetapi menyangkut keberlangsungan pelayanan kepada masyarakat. (*)

Komentar

Berita Terkini