BONE,KLIKWARTA.ID — Jika sebuah kegiatan besar Pemerintah Kabupaten Bone berlangsung, ada satu sosok yang wajah dan suaranya cukup mudah dikenali. Bukan pejabat yang berdiri di podium, bukan pula tamu kehormatan yang duduk di barisan depan. Ia justru berada di tengah panggung, memegang mikrofon dan memastikan acara terus bergerak sesuai alurnya.
Sosok itu adalah Andi Ferry.
Pria bernama lengkap Andi Asfar Mattugengkeng, C.PMC., C.PS., tersebut dikenal sebagai pembawa acara atau Master of Ceremony (MC) yang kerap dipercaya memandu berbagai agenda Pemerintah Kabupaten Bone.
Dengan gaya komunikasi yang lugas, komunikatif dan fleksibel, Andi Ferry terbiasa menghidupkan panggung dalam beragam kegiatan. Dari acara pemerintahan yang sarat aturan protokoler hingga kegiatan yang membutuhkan suasana lebih santai dan interaktif.
Bagi sebagian masyarakat Bone, kemunculannya di atas panggung mungkin sudah menjadi pemandangan yang familiar.
Namun, menjadi orang yang berdiri paling depan saat acara berlangsung bukan pekerjaan sederhana.
Di balik mikrofon, Andi Ferry harus memastikan setiap tahapan kegiatan berjalan sesuai rundown. Ia membuka acara, menyampaikan informasi, memperkenalkan agenda, memandu perpindahan sesi, mempersilakan pejabat atau tamu undangan hingga menjaga suasana ketika terjadi perubahan di lapangan.
Satu kesalahan kecil dalam penyebutan nama, jabatan atau urutan acara bisa berpengaruh terhadap jalannya kegiatan.
Karena itu, seorang MC dituntut bukan hanya memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga harus mampu membaca situasi.
“Setiap acara memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, seorang MC harus bisa membaca suasana dan menyesuaikan cara membawakan acara,” kata Andi Ferry.
Prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam setiap penampilannya.
Acara pemerintahan yang formal membutuhkan ketelitian dan kepatuhan terhadap protokol. Sebaliknya, kegiatan keluarga, launching, wedding maupun perayaan ulang tahun membutuhkan kemampuan membangun suasana yang lebih cair.
Perbedaan karakter acara itu pula yang membuat pengalaman menjadi modal penting.
Andi Ferry terbiasa menghadapi perubahan yang terjadi secara spontan. Jadwal bisa bergeser, narasumber belum siap, susunan acara berubah atau ada agenda yang harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Dalam situasi seperti itu, MC tidak boleh ikut panik.
Ia harus tetap berbicara, menjaga perhatian audiens dan mencari cara agar perubahan tersebut tidak terasa sebagai sebuah gangguan.
Dari Ruang Pemerintahan hingga Studio Radio
Kemampuan Andi Ferry berkomunikasi di depan publik juga tidak terlepas dari aktivitasnya sebagai aparatur pemerintah dan insan penyiaran.
Di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bone, ia merupakan staf pada Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Bone.
Ia juga mendapat amanah sebagai Kepala Stasiun Radio Pemerintah Daerah Kabupaten Bone, SBB 97,7 FM.
Dunia radio dan dunia panggung memang memiliki karakter berbeda. Namun, keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan menyampaikan pesan kepada publik.
Di radio, komunikasi dibangun melalui suara. Sementara di atas panggung, komunikasi dilakukan secara langsung dengan audiens.
Pengalaman di dua ruang tersebut membuat Andi Ferry terbiasa mengolah kata, menjaga intonasi, membaca respons pendengar maupun audiens serta menyesuaikan gaya komunikasi dengan situasi.
Tak mengherankan jika ia kemudian dipercaya menangani berbagai jenis kegiatan.
Mulai dari agenda pemerintahan, kegiatan resmi, peluncuran program, acara masyarakat, kegiatan keluarga hingga pesta pernikahan.
MC Bukan Sekadar Bicara
Bagi Andi Ferry, menjadi MC bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang.
Ada pekerjaan yang tidak terlihat sebelum sebuah acara dimulai.
Seorang MC harus mempelajari konsep kegiatan, memahami susunan acara, mengetahui siapa saja yang hadir, memastikan penyebutan nama dan jabatan tepat, hingga mempersiapkan kemungkinan perubahan yang terjadi saat acara berlangsung.
Ketika berada di atas panggung, kemampuan improvisasi juga menjadi penting. Sebab, tidak semua kondisi dapat diprediksi.
Ketika ada jeda yang tidak direncanakan, seorang MC harus mampu mengisinya. Ketika susunan acara berubah, ia harus segera menyesuaikan. Ketika suasana mulai monoton, ia dituntut mampu mengembalikan perhatian audiens.
Di sinilah pengalaman menjadi pembeda.
Semakin banyak panggung yang dilalui, semakin banyak pula karakter audiens dan situasi yang harus dihadapi.
Andi Ferry pun terbiasa berpindah dari suasana formal ke suasana yang lebih cair.
Wajah di Depan, Kerja di Belakang
Masyarakat yang hadir dalam sebuah kegiatan biasanya hanya melihat hasil akhirnya.
Acara berjalan lancar. Pejabat menyampaikan sambutan. Tamu mengikuti rangkaian kegiatan. Agenda selesai sesuai jadwal. Namun, ada banyak orang yang bekerja di balik kelancaran tersebut.
MC menjadi salah satu bagian penting karena berada di garis depan komunikasi acara.
Andi Ferry menjalankan peran itu dari satu panggung ke panggung lainnya.
Ia mungkin bukan orang yang paling banyak mendapat sorotan dalam sebuah kegiatan. Tetapi ketika mikrofon berada di tangannya, ia menjadi penghubung antara panitia, pejabat, tamu undangan dan masyarakat yang hadir.
Peran tersebut membuatnya harus selalu siap.
Salah membaca situasi bisa membuat acara kehilangan ritme. Sebaliknya, kemampuan membaca keadaan dapat membuat sebuah kegiatan terasa lebih hidup meskipun terjadi perubahan di lapangan.
Di Balik Mikrofon
Lahir di Watampone pada 31 Mei 1984, Andi Ferry merupakan salah satu dari tiga bersaudara. Ia lahir di Rumah Sakit Umum pada Kamis dini hari sekitar pukul 02.00 WITA.
Dalam kesehariannya, ia tidak hanya menjalani aktivitas sebagai staf pemerintah dan MC. Ia juga menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya ke berbagai ruang yang semuanya memiliki satu benang merah: komunikasi.
Dari lingkungan pemerintahan, studio radio hingga panggung acara, Andi Ferry berada di tengah masyarakat dengan peran yang berbeda-beda.
Bagi publik, ia mungkin lebih dikenal sebagai pria yang berdiri di atas panggung dengan mikrofon di tangan.
Tetapi di balik itu, ada pekerjaan yang membutuhkan kesiapan, ketelitian, keberanian berbicara, kemampuan mendengar dan kecakapan membaca situasi.
Sebab, sebuah acara yang berjalan lancar bukan hanya soal siapa yang tampil sebagai tokoh utama.
Ada pula mereka yang memastikan setiap kata tersampaikan, setiap sesi berpindah tepat waktu dan suasana tetap terjaga.
Dan di Kabupaten Bone, Andi Ferry adalah salah satu sosok yang kerap berada di balik mikrofon untuk menjalankan peran tersebut. (*)
Biodata Singkat
Nama lengkap: Andi Asfar Mattugengkeng, C.PMC., C.PS.
Nama panggilan: Andi Ferry
Tempat, tanggal lahir: Watampone, 31 Mei 1984
Pekerjaan: Staf Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Bone
Amanah: Kepala Stasiun Radio Pemerintah Daerah Kabupaten Bone (SBB) 97,7 FM
Alamat: Jalan Sungai Brantas, BTN Griya Pelangi Timur Blok I Nomor 3
TikTok: Andi Ferry C.PMC., C.PS.
Instagram/Facebook: Andi Ferry Andi Ferry
#Bone #AndiFerry #MasterOfCeremony #MC #KomunikasiPublik

