BONE, KLIKWARTA.ID — Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., bersama Wakil Bupati, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., menghadiri tradisi adat budaya Bugis Cemme Passili yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Bone Riolo Tahun 2025.
Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Merdeka Kota Watampone, Rabu, (29/10/2025).
Prosesi Cemme Passili’ adalah ritual tradisi masyarakat yang dilaksanakan oleh warga Desa Ulo, Dusun Ulo-ulo. Tradisi ini dilakukan satu kali dalam setahun sebagai bentuk pensucian diri dan rasa syukur setelah panen, sekaligus sebagai tanda dimulainya kembali musim tanam.
Dalam sambutannya, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya terhadap masyarakat yang masih menjaga kelestarian adat dan tradisi daerah.
“Tradisi seperti Cemme Passili ini bukan sekadar ritual, tetapi juga cerminan rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan kita terhadap alam. Pemerintah Daerah berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal sebagai identitas dan kekayaan daerah Bone,” ucapnya.
Melalui Bone Riolo dan tradisi Cemme Passili, kita diingatkan untuk tetap menjaga harmoni antara Manusia, Alam, dan Sang Pencipta. "Ini adalah warisan luhur yang perlu kita rawat bersama, dan bisa di agendakan setiap tahunnya," ucapnya lagi.
Menurut, mantan Camat Barebbo ini menerangkan kalau Bone kaya akan budaya, dan tugas kita semua untuk menjaga serta melestarikannya. "Saya berharap prosesi Cemme Passili ini dapat menjadi agenda tahunan Kabupaten Bone,” tegasnya.
Bupati Asman menegaskan, kekuatan Bone tidak hanya terletak pada sumber daya alam, tetapi juga pada kekayaan budaya dan kearifan lokal yang menjadi jati diri masyarakat Arung Palakka.
Kegiatan ini berlangsung khidmat dan meriah, serta dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Bone, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tamu undangan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut kegiatan ini diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone bekerja sama dengan Kerukunan Keluarga Wija Arumpone (KKWA) dimulai sejak pukul 07.00 WITA dengan prosesi Madduppa, yakni penjemputan resmi Bupati Bone dan Ketua KKWA A. Bau Zaldi Datu Appo Mappanyukki.
Setelah itu, air dari empat sumur kerajaan dibawa menuju lokasi acara sebagai simbol penyatuan unsur kehidupan dan doa keselamatan bagi rakyat Bone.
Sekitar pukul 08.01 WITA, acara dibuka resmi oleh pembawa acara. Disusul prosesi Mattoana dan Mappaota, sebelum akhirnya tiba pada puncak ritual Cemme Passili penyiraman air suci kepada Bupati Bone dan Ketua KKWA yang dipimpin langsung para Bissu, penjaga nilai-nilai spiritual dan adat Bugis klasik.
Sementara itu, Ketua KKWA, A. Bau Zaldi Datu Appo Mappanyukki, menekankan pentingnya menjaga ekosistem budaya. “Merawat tradisi bukan hanya slogan. Ini tentang menjaga nilai-nilai luhur dan jati diri kita sebagai Wija Arumpone,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan, Andi Murni, mengatakan bahwa kegiatan ini terlaksana atas sinergi dengan KKWA sebagai bentuk nyata pelestarian nilai-nilai budaya. “Ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan kepada warisan leluhur yang telah menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” katanya.
Sekitar pukul 08.31 WITA, prosesi simbolik Cemme Passili berlangsung khidmat. Para Bissu meneteskan air suci ke kepala Bupati Bone dan Ketua KKWA, diiringi lantunan doa dan musik tradisional yang menambah suasana magis. Tak lama kemudian, ratusan peserta mengikuti siraman massal sebagai simbol penyucian diri yang berlangsung hingga pukul 10.00 WITA.
Sebagai informasi, Tradisi Cemme Passili memiliki akar panjang di Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge. Dikisahkan, pada masa lampau wilayah itu pernah dilanda kemarau panjang. Tanah mengering, ternak mati, dan masyarakat mengalami paceklik hebat. Hingga seorang tetua mendengar bisikan agar masyarakat melakukan ritual “Mappasili Wanua” atau pembersihan kampung dengan suguhan “Beppa Pitu”—kue merah berbentuk bulat berjumlah tujuh buah—dan menyembelih hewan ternak, yang kala itu satu-satunya adalah kuda.
Sejak itulah, setiap pelaksanaan Cemme Passili di Ulo selalu diawali dengan penyembelihan kuda, pembersihan sungai, dan diakhiri dengan mandi massal di Sungai Watang Ulo sebagai simbol tolak bala dan doa keselamatan. Ritual ini diyakini mampu menghadirkan hujan dan hasil panen yang melimpah, serta menjadi bentuk penyesalan manusia atas dosa-dosanya.
Cemme Passili, yang secara harfiah berarti “mandi penyucian”, menjadi lambang spiritual bagi masyarakat Bone bahwa kesejahteraan lahir dan batin hanya dapat diraih melalui keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai-nilai adat.
Melalui momentum Festival Bone Riolo ini, Pemerintah Kabupaten Bone berkomitmen menjadikan ritual adat tersebut bukan sekadar tontonan budaya, tetapi media edukasi dan pelestarian warisan leluhur bagi generasi muda.
Di bawah siraman air suci pagi itu, tersirat pesan mendalam: bahwa Bone bukan hanya tanah bersejarah, tetapi juga pusat peradaban yang hidup dalam tradisi dan doa masyarakatnya.
Diberitakan sebelumnya, Kerukunan Keluarga Wija Arumpone (KKWA) berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bone, bakal menggelar prosesi adat Cemme Passili. Hal ini untuk menghidupkan napas tradisi leluhur melalui prosesi adat.
Upacara sakral ini menjadi momentum reflektif bagi masyarakat Bone untuk memaknai nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Kegiatan tersebut akan dipusatkan di Lapangan Merdeka Watampone, Kota Watampone, Rabu (29/10/2025).
Agenda diawali pukul 07.00 WITA dengan prosesi Maddduppa atau penjemputan Bupati Bone dan Ketua Kerukunan Keluarga Wija Arumpone, sebagai bentuk penghormatan adat. Lalu, dilanjutkan pembawaan air dari empat sumur kerajaan menuju lokasi acara sebagai simbol persatuan dan kesucian empat penjuru Bone.
Usai Mattoana, kegiatan dibuka resmi oleh MC sekitar pukul 08.01 WITA.
Kepala Dinas Kebudayaan, Hj. Andi Murni mengatakan kegiatan yang terlaksana atas kerja sama atau kolaborasi erat antara Pemerintah Daerah dengan Kerukunan Keluarga Wija Arumpone.
"Melalui kerja sama ini, kita berupaya menjaga warisan budaya Bone agar tetap hidup dan dikenal lintas generasi,” katanya.
Puncak kegiatan berlangsung pukul 08.31 WITA, ketika para Bissu penjaga adat dan spiritual Bugis memimpin upacara simbolik Cemme Passili. Air suci dipercikkan kepada Bupati Bone dan Ketua KKWA, melambangkan pensucian diri dan doa keselamatan bagi pemimpin serta masyarakat Bone.
Rangkaian acara akan berlanjut dengan mandi dan siraman massal seluruh peserta sebagai simbol pensucian diri pada pukul 09.01 hingga 10.00 WITA.
Ratusan peserta ikut mandi bersama dalam suasana khidmat dan gembira. Air yang membasahi tubuh mereka dipercaya membawa keberkahan, membersihkan diri dari hal-hal buruk, serta mempererat ikatan sosial di antara masyarakat.
Sekitar pukul 10.00 WITA, prosesi ditutup dengan suasana penuh keharuan dan kebanggaan. Air, tanah, dan doa berpadu menjadi simbol harmoninya manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Cemme Passili merupakan tradisi tua masyarakat Bone yang melambangkan penyucian diri serta doa keselamatan bagi rakyat dan daerah.
Sementara itu, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman sangat menyambut baik kegiatan Cemme Passili. Di mana esensinya untuk melestarikan budaya Bone.
Menurutnya, Cemme Passili bukan sekadar ritual adat, tetapi juga sarana menjaga identitas dan jati diri masyarakat Bone.
“Cemme Passili mengajarkan makna kesucian, kebersamaan, dan rasa syukur. Tradisi ini menjadi cerminan kebesaran Bone sebagai kerajaan besar di masa lampau, sekaligus warisan budaya yang harus kita lestarikan,” jelas Bupati.
Melalui Cemme Passili, Bone tak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga meneguhkan langkah ke depan menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (*/rls)










