-->

Nelayan Bone Didorong Naik Kelas, Kuasai Teknologi hingga Kembangkan Nilai Tambah Hasil Perikanan


BONE,KLIKWARTA.ID  — Laut bukan sekadar ruang bagi nelayan untuk mencari ikan. Di balik debur ombak dan ketidakpastian cuaca, terdapat peluang ekonomi yang lebih besar apabila pengetahuan, teknologi, keselamatan, dan pengelolaan usaha berjalan beriringan.

Semangat tersebut didorong Pemerintah Kabupaten Bone melalui Sosialisasi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Nelayan dalam rangka Kegiatan Pemberdayaan Nelayan Kecil dalam Daerah, yang berlangsung di Ballroom Novena Hotel, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kamis (10/9/2026).


Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 Wita itu dibuka secara resmi oleh Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. Sebanyak 100 nelayan Kabupaten Bone mengikuti kegiatan tersebut.

Bagi Pemkab Bone, peningkatan kapasitas SDM menjadi bagian penting dalam membangun sektor perikanan yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

Nelayan didorong tidak lagi dipandang sebatas pekerja yang pergi melaut dan membawa pulang hasil tangkapan. Lebih dari itu, nelayan diharapkan mampu menjadi pelaku usaha yang dapat membaca peluang, mengelola risiko, memanfaatkan teknologi, serta menciptakan nilai tambah dari hasil perikanan.

Sosialisasi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ketua Tim Hilirisasi Sinergi Prof. Safruddin, S.Pi., M.P., Ph.D., serta Kepala BPJS Ketenagakerjaan.

Plt. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bone Hj. Andi Nirwana, S.Pi., mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah daerah meningkatkan kapasitas nelayan dalam menghadapi berbagai tantangan usaha perikanan.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap kreativitas nelayan semakin berkembang sehingga mampu melahirkan inovasi baru, sekaligus memahami pentingnya jaminan perlindungan bagi nelayan dalam menjalankan aktivitasnya,” katanya.

Selain peningkatan keterampilan, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai keselamatan dan perlindungan kerja. Hal ini dinilai penting mengingat aktivitas nelayan memiliki risiko tinggi dan sangat dipengaruhi kondisi cuaca serta lingkungan laut.

Nelayan Kecil Bukan Batasan

Dalam arahannya, Bupati Bone Andi Asman Sulaiman menegaskan bahwa istilah nelayan kecil tidak seharusnya menjadi batasan bagi seseorang untuk mengembangkan usaha.


Menurutnya, skala usaha saat ini bukan ukuran yang menentukan masa depan seorang nelayan. Dengan pengetahuan, pengelolaan yang baik, serta keberanian memanfaatkan peluang, usaha perikanan dapat terus dikembangkan.

“Jangan melihat istilah nelayan kecil sebagai sesuatu yang membatasi. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu yang didapat hari ini bisa digunakan untuk meningkatkan usaha, menghemat biaya dan waktu, serta mengantisipasi berbagai risiko saat melaut,” kata Andi Asman.



Ia meminta para nelayan tidak menjadikan kegiatan sosialisasi sebatas kegiatan seremonial. Pengetahuan yang diperoleh harus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

Bupati juga mendorong nelayan untuk terbuka terhadap perkembangan teknologi dan metode perikanan modern. Menurutnya, pemanfaatan teknologi tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga membantu nelayan bekerja lebih efektif dan efisien.


“Ilmu yang kita dapatkan di sini dicatat dan diingat baik-baik. Pelajari juga hal-hal yang berbasis modern dan teknologi. Tujuan akhirnya adalah bagaimana ilmu tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan,” ungkapnya.

Dorong Industri Perikanan dan Hilirisasi

Peningkatan kualitas SDM nelayan, kata Andi Asman, merupakan bagian dari rencana yang lebih besar dalam mengembangkan sektor perikanan Kabupaten Bone.

Pemerintah daerah juga mulai mendorong pengembangan potensi perikanan dari sektor hulu hingga hilir. Hasil tangkapan nelayan diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.


Peluang tersebut semakin terbuka seiring dengan rencana beroperasinya Pelabuhan Tonra.

Andi Asman mengatakan keberadaan pelabuhan tersebut diharapkan menjadi salah satu pintu masuk bagi tumbuhnya industri perikanan di Kabupaten Bone.

“Kalau Pelabuhan Tonra sudah beroperasi, kami akan berupaya mendorong berdirinya industri. Kami juga akan mengusulkan pengembangan desa nelayan, pengolahan rumput laut sendiri, serta industri-industri lainnya,” jelasnya.

Menurutnya, potensi alam yang besar tidak akan secara otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila tidak dibarengi dengan penciptaan nilai tambah.

Hasil tangkapan ikan, misalnya, akan memiliki nilai ekonomi berbeda ketika tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi melalui proses pengolahan, pengemasan, dan pemasaran yang lebih baik.


Karena itu, pemerintah daerah ingin mendorong ekosistem usaha perikanan yang memungkinkan masyarakat terlibat tidak hanya dalam proses produksi, tetapi juga pengolahan hingga pemasaran.

Target Produk Perikanan Bone Tembus Pasar Internasional

Andi Asman bahkan mengungkapkan keinginannya agar hasil produksi masyarakat Bone dapat menembus pasar luar negeri.

“Mimpi saya, hasil bumi kita nantinya bisa diekspor ke luar negeri. Termasuk hasil perikanan, seperti daging ikan, yang dikemas semenarik mungkin sehingga memiliki nilai jual dan mampu bersaing di negara-negara lain,” ungkapnya.

Jika gagasan tersebut terwujud, nelayan tidak lagi hanya berada di bagian awal rantai ekonomi perikanan. Mereka dapat menjadi bagian dari ekosistem usaha yang lebih panjang, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran.

Namun, di tengah dorongan modernisasi tersebut, Bupati mengingatkan bahwa kemampuan teknis bukan satu-satunya modal yang dibutuhkan nelayan.

Keselamatan dan perlindungan kerja harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas. Nelayan bekerja di lingkungan dengan tingkat risiko tinggi sehingga pemahaman mengenai keselamatan dan jaminan perlindungan menjadi bagian penting dalam pengembangan SDM.

Bekerja dengan Ilmu, Ikhtiar, dan Keberkahan

Andi Asman juga mengingatkan para nelayan agar peningkatan kesejahteraan tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi dibarengi nilai-nilai spiritual dan kepedulian sosial.

“Setiap melakukan kegiatan, jangan pernah tinggalkan ikhtiar dan doa. Yang paling penting juga adalah shalat dan bersedekah kepada tetangga maupun orang yang membutuhkan. Bekerjalah dengan keberkahan. Itu pesan orang tua saya,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari peningkatan produksi dan pendapatan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Uang Rakyat Kembali kepada Rakyat

Pada akhirnya, seluruh program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah daerah bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Andi Asman menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat yang mengantarkannya menjadi Bupati Bone harus dijawab melalui program pembangunan yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Saya terpilih menjadi Bupati tentu karena ada kepercayaan dari bapak dan ibu semua. Karena itu, kami berkomitmen bagaimana uang rakyat dikembalikan kepada rakyat melalui program-program yang pro kepada masyarakat,” tegasnya.

Bagi para nelayan yang mengikuti kegiatan tersebut, sosialisasi menjadi ruang untuk melihat profesi mereka dari perspektif yang lebih luas.

Melaut bukan hanya tentang seberapa banyak ikan yang dibawa pulang. Ada pengetahuan yang harus terus diperbarui, teknologi yang perlu dipelajari, risiko yang harus diantisipasi, hasil tangkapan yang dapat diolah, serta peluang pasar yang dapat dikembangkan.

Dari sinilah gagasan “nelayan naik kelas” menemukan maknanya.

Nelayan tetap berangkat dari laut, tetapi cita-citanya tidak harus berhenti di bibir pantai. Dengan peningkatan kapasitas SDM, perlindungan kerja, pemanfaatan teknologi, serta dukungan industri dari hulu hingga hilir, hasil laut Bone diharapkan mampu bergerak lebih jauh dan memiliki daya saing hingga pasar internasional.

Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Dinas Perikanan Kabupaten Bone, para narasumber, serta pemangku kepentingan terkait. (*)

Komentar

Berita Terkini