ANHUI, TIONGKOK — Investasi jumbo kembali mengalir ke sektor manufaktur dan energi hijau. PT Tiran Nusantara Grup menggandeng Conch Investment Holdings (Hong Kong) Ltd. melalui kerja sama investasi tahap awal senilai Rp15 triliun di Anhui, Tiongkok, Jumat (9/10/2026).
Kesepakatan tersebut mencakup empat proyek strategis, yakni pembangunan pabrik bahan anoda baterai litium, pabrik kemasan plastik, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), dan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Penandatanganan dilakukan Direktur Operasional Tiran Nusantara Grup Andi Karyadi dan Direktur Conch Investment Holdings Li Xin. Prosesi tersebut disaksikan Presiden Komisaris Tiran Nusantara Grup Andi Amar Mar’uf Sulaiman.
Kerja sama ini menjadi langkah Tiran Nusantara Grup memperluas portofolio bisnis ke sektor manufaktur, energi baru, pengelolaan limbah, sekaligus mendorong hilirisasi sumber daya.
Nilai investasi tersebut juga dirancang tidak berhenti pada tahap awal. Dalam pengembangan berikutnya, nilai kerja sama disebut akan ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan karakter dan perkembangan masing-masing proyek.
Empat Proyek Strategis
Empat proyek yang masuk dalam kerja sama tersebut menyasar sektor industri yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan energi baru dan penguatan industri hilir.
Pertama, pembangunan pabrik bahan anoda baterai litium yang diarahkan untuk mendukung kebutuhan material industri energi baru.
Kedua, pabrik kemasan plastik sebagai bagian dari pengembangan industri manufaktur.
Ketiga, pembangunan PLTB untuk pengembangan sumber energi terbarukan.
Keempat, pembangunan PLTSa yang mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan produksi energi.
Kombinasi keempat proyek tersebut membuat kerja sama Tiran dan Conch tidak hanya menyasar manufaktur, tetapi juga menghubungkan industri hilir dengan energi bersih dan pengelolaan limbah.
Skema kepemilikan dalam usaha patungan akan disesuaikan dengan karakter setiap proyek. Pada sebagian proyek, Tiran Nusantara Grup disebut memegang 49 persen saham dan Conch 51 persen.
Sementara pada usaha patungan lainnya, komposisinya dibalik, dengan Tiran Nusantara Grup menguasai 51 persen dan Conch 49 persen.
Target Serap 5.000 Tenaga Kerja
Humas PT Tiran Nusantara Grup Rezki Mulyadi mengatakan kerja sama dengan mitra asal Tiongkok tersebut diharapkan memperkuat industri hilir sekaligus membuka lapangan kerja.
“Kerja sama ini menegaskan kepercayaan mitra internasional terhadap iklim investasi Indonesia dan kapasitas industri nasional. Kami berkomitmen membangun industri hilir yang mampu menyerap tenaga kerja 5.000 orang dan memperkuat kemandirian ekonomi,” ujar Rezki.
Menurutnya, kemitraan tersebut diarahkan untuk memberikan nilai tambah melalui pengembangan industri, bukan sekadar investasi pada sektor hulu.
Conch sendiri telah mengembangkan bisnis di sektor energi baru, pengolahan limbah, material industri, dan konstruksi berteknologi tinggi.
Perusahaan tersebut juga telah memiliki aktivitas investasi di Indonesia. Dalam keterangan pihak Tiran Nusantara Grup, nilai investasi Conch yang telah berjalan di Indonesia disebut mencapai sekitar Rp30 triliun.
Kerja sama dengan Tiran Nusantara Grup karena itu ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan investasi Conch di Indonesia dalam jangka panjang.
Dari Inovasi Racun Tikus hingga Bisnis Multisektor
Tiran Nusantara Grup disebut merupakan kelompok usaha yang didirikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Cikal bakal usaha tersebut disebut berawal dari penelitian Amran terkait serangan hama tikus yang kemudian melahirkan inovasi pengendalian tikus bernama Tiran, singkatan dari “Tikus Diracun Amran”.
Pada 1995, Amran disebut mengurus hak paten atas sejumlah inovasi tersebut, di antaranya Tiran 58PS dan Alpostran.
Dalam keterangan perusahaan, Amran disebut memiliki tujuh hak paten di bidang inovasi pertanian, khususnya pengendalian hama.
Produk tersebut disebut telah digunakan oleh jutaan petani di Indonesia dan dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Jepang, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.
Pada 2004, usaha tersebut kemudian disebut berkembang menjadi embrio Tiran Nusantara Grup dengan modal awal berupa pinjaman Rp500 ribu.
Seiring waktu, kelompok usaha itu berkembang ke berbagai sektor, mulai dari pertambangan, energi, perdagangan, logistik hingga kawasan industri.
Di sektor logistik, grup tersebut disebut mengoperasikan puluhan kapal angkut serta ratusan dump truck dan alat berat untuk mendukung distribusi bahan baku maupun hasil produksi lintas wilayah.
Usaha racun tikus yang menjadi cikal bakal bisnis tersebut disebut telah dihentikan sejak Amran pertama kali diangkat menjadi Menteri Pertanian pada 2014. Penghentian itu disebut dilakukan untuk menjaga profesionalisme Amran.
Investasi Hijau Jadi Arah Baru
Kerja sama Tiran Nusantara Grup dan Conch membawa arah baru pengembangan bisnis ke sektor yang menggabungkan manufaktur, energi terbarukan, dan pengelolaan limbah.
Pabrik bahan anoda baterai litium diarahkan pada kebutuhan material industri energi baru. Sementara PLTB dan PLTSa menjadi bagian dari pengembangan energi alternatif sekaligus pengelolaan lingkungan.
Di sisi lain, pabrik kemasan plastik memperkuat lini manufaktur yang menjadi bagian dari ekspansi investasi tersebut.
Dengan nilai investasi tahap awal yang disebut mencapai Rp15 triliun dan target penyerapan sekitar 5.000 tenaga kerja, kemitraan ini diharapkan menjadi salah satu langkah ekspansi Tiran Nusantara Grup dalam membangun industri hilir dan energi hijau.
Nilai investasi pun masih terbuka untuk berkembang pada tahap selanjutnya mengikuti realisasi dan pengembangan masing-masing proyek. (*)
