BONE,KLIKWARTA.ID – Kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu dibangun sejak dari lingkungan keluarga. Peran perempuan, khususnya ibu rumah tangga, dinilai menjadi salah satu kunci dalam memastikan keluarga dan masyarakat lebih sigap menghadapi ancaman bencana.
Hal tersebut disampaikan Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, saat membuka Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana Tahun 2026 yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bone bersama pengurus Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), Rabu (21/10/2026).
Kegiatan berlangsung di Ballroom Sentosa Hotel Novena, di Jalan A. Yani, Kota Watampone, dan diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri atas pengurus TP-PKK tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan se-Kabupaten Bone.
Pelatihan mengusung tema “PKK Siaga Bencana, Langkah Tepat Keluarga Menghadapi Ancaman Bencana di Kabupaten Bone”. Materi disampaikan Dody Rahman dari BPBD Provinsi Sulawesi Selatan.
Bupati Bone menegaskan, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana, terutama karena ibu berperan besar dalam keluarga.
“Ibu yang akan berperan penting dalam keluarga. Ibu-ibu sebagai pelopor keselamatan, garda terdepan dalam keluarga untuk pencegahan yang ada di sekitar kita,” tegas Andi Asman.
Menurutnya, pencegahan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab BPBD, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Potensi risiko dapat muncul dalam berbagai aktivitas, termasuk sektor perkebunan, perikanan, dan peternakan yang menggunakan berbagai peralatan.
Bupati juga menilai TP-PKK merupakan mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan edukasi kebencanaan hingga ke tingkat masyarakat paling bawah.
“PKK ini jaringannya lengkap sampai ke dasa wisma, sehingga informasi kebencanaan bisa cepat sampai ke masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bone, A. Muhammad Yusuf, S.STP., M.Si., mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.
Ia mengingatkan bahwa bencana dapat terjadi sewaktu-waktu dan tidak selalu dapat diprediksi.
“Kegiatan ini sangat penting karena bencana itu hadir tidak bisa kita prediksi, terjadi secara tiba-tiba dan kesiapsiagaan itu perlu kita tingkatkan. Peran dari ibu-ibu itu sangat diperlukan agar memberikan pengetahuan dan mentransfer ilmunya kepada seluruh masyarakat, baik di desa dan kelurahan tempat kita bertugas,” ujarnya.
Menurut Yusuf, jaringan TP-PKK yang menjangkau kecamatan, desa, kelurahan hingga kelompok dasa wisma menjadi kekuatan penting dalam memperluas informasi mengenai pencegahan dan mitigasi bencana.
Ia berharap materi yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Pengetahuan tersebut diharapkan diteruskan melalui kegiatan serupa di masing-masing kecamatan, desa, dan kelurahan.
Dengan demikian, edukasi mengenai potensi bencana, langkah pencegahan, hingga tindakan yang harus dilakukan saat terjadi bencana dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Yusuf juga menyoroti kondisi kekeringan yang masih dihadapi Kabupaten Bone. Berdasarkan prediksi BMKG terakhir yang disampaikannya, kondisi kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga awal Desember 2026.
“Hal ini perlu kita tingkatkan dan perlu kita pelajari, karena jangan sampai ada korban baru kita mau belajar,” tegasnya.
Di akhir kegiatan, Bupati Bone menyampaikan apresiasi kepada BPBD Kabupaten Bone atas pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia berharap seluruh pihak terus menjaga kekompakan dan memperkuat kolaborasi dalam upaya pencegahan serta mitigasi bencana.
Melalui pelatihan ini, pengurus TP-PKK diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi penggerak kesiapsiagaan bencana di lingkungan masing-masing, sehingga masyarakat Bone semakin tanggap, sigap, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana. (*)










