-->

Maloro Lopi Bawa Doa dan Semangat Pesisir ke Tengah Karnaval Budaya Gau Maraja Bone

BONE,KLIKWARTA.ID — Sebuah perahu menjadi pusat perhatian di tengah riuh Karnaval Budaya rangkaian Gau Maraja Bone 2026, Minggu (27/9/2026).

Bukan karena ukurannya, tetapi karena perahu itu membawa kisah kehidupan masyarakat pesisir Tanete Riattang Timur—tentang doa, gotong royong, perjuangan mencari rezeki hingga harapan yang dititipkan ke laut.

Tradisi Maloro Lopi, yang berarti mendorong perahu, diangkat Kecamatan Tanete Riattang Timur dalam karnaval yang dipusatkan di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Bone, Jalan Petta Ponggawae, Kecamatan Tanete Riattang.

Bersama 26 kecamatan lainnya, Tanete Riattang Timur membawa identitas budayanya melalui persembahan bertajuk “Maloro Lopi: Layar Budaya, Semangat Pesisir.”

Adegan mendorong perahu menjadi visual utama. Tangan-tangan para peserta bergerak bersama, menggambarkan kebersamaan masyarakat pesisir saat mengantarkan perahu menuju laut sebelum nelayan menjalankan aktivitas melaut.

Namun, prosesi tersebut bukan sekadar atraksi.

Di dalamnya terdapat rangkaian tradisi yang menggambarkan doa dan harapan masyarakat sebelum menghadapi laut.

Prosesi diawali dengan kehadiran Punggawa Lopi yang menggambarkan pemilik perahu dan Juragan Lopi sebagai pemimpin pelayaran. Sementara Sandro Lopi atau dukun perahu memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan.

Suasana semakin khidmat ketika Pabbarasanji mengiringi prosesi dengan lantunan Barasanji.

Di sisi lain, Padoko membawa berbagai bekal dan persembahan, mulai dari onde-onde, sokko lotong, sokko putih, bella lawo, pisang goreng, pisang tandang, pisang nisi, pisang manurung, ayam likku, kelapa muda hingga telur masak.

Beragam makanan tersebut menjadi bagian dari simbol bekal perjalanan, rasa syukur, doa dan harapan agar perjalanan melaut berjalan lancar serta membawa hasil bagi keluarga.

Setelah seluruh persiapan dilakukan, Paloro Lopi bersama para awak mulai mendorong perahu.

Gerakan itu kemudian diterjemahkan dalam pertunjukan kolosal. Para peserta memperlihatkan bagaimana sebuah perahu didorong dengan kekuatan bersama—sebuah gambaran sederhana tentang gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir.

Bagi nelayan, laut bukan sekadar tempat mencari penghidupan. Di sanalah harapan keluarga dipertaruhkan.

Bawa Kehidupan Pesisir ke Panggung Karnaval

Camat Tanete Riattang Timur, Andi Habibie, mengatakan Maloro Lopi dipilih karena tradisi tersebut sangat erat dengan kehidupan masyarakat di wilayahnya yang memiliki hubungan kuat dengan laut.

Menurutnya, Gau Maraja menjadi momentum untuk memperkenalkan tradisi tersebut kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mendorong pelestarian budaya lokal.

“Kita ingin menunjukkan bahwa Tanete Riattang Timur memiliki budaya dan tradisi masyarakat pesisir yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Maloro Lopi ini bukan hanya sebuah pertunjukan, tetapi menggambarkan semangat kebersamaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Andi Habibie.

Ia berharap generasi muda dapat mengenal dan mencintai budaya daerah sehingga tradisi tersebut tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

“Harapan kita, generasi muda bisa mengenal dan mencintai budaya sendiri. Jangan sampai tradisi yang menjadi identitas masyarakat pesisir hilang karena perkembangan zaman,” harapnya.

Persembahan Maloro Lopi juga membawa pesan tentang pentingnya semangat gotong royong, ketahanan pangan serta ketersediaan hasil laut bagi masyarakat Tanete Riattang Timur.

Putri Laut dan Gelombang Harapan

Nuansa bahari semakin kuat dengan hadirnya Putri Laut Tangkulara yang menjadi simbol keindahan, kekuatan dan kekayaan laut.

Pertunjukan kemudian berkembang menjadi tari kolosal. Para penari menggambarkan gelombang laut, aktivitas melaut dan semangat masyarakat pesisir dalam mencari penghidupan.

Gerakan tersebut menjadi gambaran bahwa kehidupan masyarakat pesisir tidak selalu tenang. Ada gelombang yang harus dihadapi, tetapi ada pula harapan yang terus tumbuh.

Para penari tampil dengan kostum bernuansa bahari, memperkuat visual kehidupan pesisir yang dibawa ke tengah kemeriahan Karnaval Budaya Gau Maraja 2026.

Persembahan tersebut merupakan kolaborasi Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur bersama Sanggar Seni Budaya Yayasan Andi Sudirman, yang memadukan tradisi, seni dan kehidupan masyarakat pesisir dalam satu pertunjukan.

Bukan Sekadar Perahu

Maloro Lopi pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah perahu yang didorong menuju laut.

Ada tangan-tangan yang saling membantu, doa yang dipanjatkan sebelum berangkat, bekal yang disiapkan, serta harapan keluarga yang ikut berlayar bersama para nelayan.

Melalui panggung Gau Maraja 2026, kehidupan masyarakat pesisir Tanete Riattang Timur dikemas menjadi sebuah persembahan budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan nilai tentang kebersamaan, perjuangan dan harapan.

“Maloro Lopi bukan sekadar prosesi mendorong perahu menuju laut. Tradisi ini menjadi gambaran tentang doa, gotong royong, perjuangan mencari rezeki dan harapan masyarakat pesisir,” ujarnya. (*)

Komentar

Berita Terkini