-->

Harga Tuna Naik, Pendapatan Nelayan Tongke-Tongke Tembus Rp7 Juta per Bulan

SINJAI,KLIKWARTA.ID — Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mulai menunjukkan dampak ekonomi bagi nelayan. Harga tuna yang sebelumnya berada di kisaran Rp25.000-Rp30.000 per kilogram (kg) kini meningkat menjadi Rp40.000-Rp45.000 per kg, sementara pendapatan nelayan disebut naik dari sekitar Rp3 juta menjadi Rp6,5 juta-Rp7 juta per bulan.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono saat meninjau KNMP Tongke-Tongke bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Jumat (25/9/2026).

Trenggono tiba sekitar pukul 09.30 WITA dan langsung mengecek sejumlah fasilitas yang tersedia di kawasan KNMP, mulai dari sarana pengelolaan hasil perikanan, gudang beku atau cold storage, pabrik es balok, hingga fasilitas pendukung aktivitas nelayan lainnya.

KNMP Tongke-Tongke saat ini menaungi 554 nelayan dengan komoditas utama tuna. Kawasan tersebut dilengkapi cold storage, pabrik es balok, kios perbekalan, kendaraan berpendingin, sentra kuliner, cool box, hingga kendaraan roda tiga.

Dalam kunjungannya, Trenggono juga berdialog langsung dengan nelayan untuk mendengar persoalan yang masih dihadapi di lapangan.

Salah satu kebutuhan yang disampaikan adalah ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar untuk mendukung aktivitas melaut.

“Yang pertama solar, sesegera mungkin kita benerin,” kata Trenggono saat berdialog dengan nelayan di KNMP Tongke-Tongke, Jumat (25/9/2026).

Selain solar, Trenggono menyoroti kebutuhan penguatan rantai dingin untuk mempertahankan mutu hasil tangkapan nelayan.

Menurut dia, penggunaan es batu saja tidak cukup untuk mempertahankan kualitas ikan dalam waktu lama. Karena itu, pemerintah akan mencari solusi pengembangan sistem cold chain yang lebih baik.

“Yang kedua, nanti kita cari solusi yang terbaik untuk ini, rantai dingin ya. Karena kalau kamu pakai es batu, sampai lebaran kucing pun kualitasnya pasti turun,” ungkapnya.

Cold Storage Tuna Ditargetkan Minus 60 Derajat

Dalam acara Sinergi Lintas Sektor: Tata Kelola dan Operasionalisasi KNMP, Trenggono menegaskan pembangunan kampung nelayan tidak boleh berhenti pada pembangunan fasilitas fisik.

Menurutnya, pemerintah perlu memberikan dukungan sarana produksi kepada nelayan sebagaimana yang selama ini dilakukan terhadap sektor pertanian.

“Jadi kalau di darat itu petani oleh pemerintah dibuatkan bendungan, dibuatkan irigasi, ya primer, sekunder, tersier. Dibuatkan pabrik pupuk untuk diberikan subsidi kepada mereka. Lalu kemudian diberikan juga bibit dan sarana prasarana lainnya. Nelayan mana pernah itu dilakukan? Semenjak pemerintahan Bapak Prabowo ini, kita bangun desa-desa nelayan,” kata Trenggono.

Untuk KNMP Tongke-Tongke, pengembangan selanjutnya diarahkan pada peningkatan kualitas hasil tangkapan tuna.

Trenggono meminta fasilitas penyimpanan ikan disesuaikan dengan karakter komoditas utama daerah tersebut.

“Jadi saya minta didesain cold storage-nya kalau katakan di Sinjai adalah tuna rata-rata. Maka cold storage-nya dia harus punya titik beku sampai dengan minus 60 derajat,” ujarnya.

Menurut Trenggono, kualitas ikan menjadi faktor penting karena berpengaruh langsung terhadap harga jual yang diterima nelayan.

Enam Kali Kirim Tuna ke Jakarta, Total 65 Ton

Ketua Satgas Operasionalisasi KNMP Victor Gustaaf Manoppo melaporkan, KNMP Tongke-Tongke telah mulai beroperasi sejak awal Juni 2026.

Menurut Victor, kawasan tersebut telah memiliki infrastruktur terintegrasi, mulai dari cold storage, kios perbekalan, pabrik es balok, kendaraan berpendingin hingga fasilitas umum lainnya.

Keberadaan fasilitas tersebut mendukung aktivitas 554 nelayan dengan komoditas utama tuna.

Dari sisi usaha koperasi, operasional KNMP telah menghasilkan omzet sebesar Rp32,19 juta. Pendapatan tersebut berasal dari penyewaan gudang beku, penjualan es balok, kios kuliner, penyewaan cool box, kios perbekalan, serta kendaraan roda tiga.

Sementara dari sisi pemasaran, produksi tuna dari Tongke-Tongke mulai dikirim ke Jakarta.

Sejak awal operasionalisasi, pengiriman tuna loin telah dilakukan sebanyak enam kali dengan total 65 ton senilai sekitar Rp2,55 miliar.

Produk tersebut kemudian dikirim ke sejumlah unit pengolahan ikan di Jakarta untuk dipasarkan ke pasar internasional, termasuk China, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Harga Tuna Naik, Pendapatan Nelayan Ikut Terdongkrak

Victor menyebut salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat setelah KNMP beroperasi adalah peningkatan harga tuna.

“Satu hal dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat saat ini, yaitu peningkatan harga ikan tuna yang awalnya hanya Rp25 ribu per kilogram (kg), saat ini telah meningkat menjadi Rp45 ribu per kg,” ujarnya.

KKP mencatat harga tuna sebelumnya berada di kisaran Rp25.000-Rp30.000 per kg. Setelah KNMP beroperasi, harganya meningkat menjadi sekitar Rp40.000-Rp45.000 per kg.

Kenaikan harga tersebut turut diikuti peningkatan pendapatan nelayan. Pendapatan yang sebelumnya sekitar Rp3 juta per bulan disebut kini berada pada kisaran Rp6,5 juta-Rp7 juta per bulan.

Operasional KNMP juga mulai membuka lapangan pekerjaan. Saat ini tercatat 17 tenaga kerja terlibat, terutama pada unit cold storage dan pabrik es balok.

Nelayan Tak Lagi Hanya Menjual, Koperasi Disiapkan Jadi Offtaker

Trenggono mengatakan masih ada pekerjaan rumah dalam pengembangan KNMP, terutama terkait permodalan nelayan.

Ia berharap nelayan tidak terus bergantung kepada tengkulak untuk mendapatkan modal melaut.

“Tinggal PR satu lagi adalah bagaimana nelayan melaut tidak usah pakai modal. Nah itu tanggung jawabnya Pak Menteri Koperasi ya. Pak Ferry,” ucapnya.

Dalam skema tersebut, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) nantinya dapat berperan sebagai offtaker atau pihak yang menyerap hasil produksi nelayan.

Trenggono juga menyebut peluang kerja sama dengan pengusaha di China telah dibicarakan untuk menjadi pembeli hasil produksi dari Kampung Nelayan Merah Putih.

“Jadi nanti yang harus dikoreksi adalah hasil produksinya, kualitas dari produksinya,” tutur Trenggono.

Ke depan, KKP mengarahkan KNMP Tongke-Tongke tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi berkembang menjadi sentra perikanan yang mampu melakukan ekspor secara mandiri.

Peningkatan kapasitas produksi, mutu, keamanan pangan, serta akses pasar internasional menjadi bagian dari pengembangan tersebut.

“Ini dalam beberapa waktu yang akan datang lagi, akan kita ubah lagi menjadi yang lebih baik. Sehingga seluruh nelayan di sini menjadi model, nelayan Sinjai sejahtera,” kata Trenggono. (*)

Komentar

Berita Terkini