-->

Dulu Bau Amis, Kini Tongke-Tongke Punya Cold Storage hingga UPI dan Kirim Tuna ke Jakarta

SINJAI,KLIKWARTA.ID — Dulu, kawasan Pelabuhan Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, identik dengan aktivitas nelayan yang berlangsung sederhana, kawasan tepian sungai yang belum tertata, hingga persoalan bau amis. Kini, wajah kawasan itu berubah.

Melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Tongke-Tongke mulai dilengkapi fasilitas perikanan yang terintegrasi. Ada cold storage, pabrik es balok, kendaraan berpendingin, cool box, kios perbekalan hingga sentra kuliner.

Bukan hanya soal wajah kawasan yang lebih rapi. Hasil tangkapan nelayan, termasuk tuna, kini bisa ditangani dengan rantai dingin dan diproses di Unit Pengolahan Ikan (UPI) KNMP sebelum dikirim ke berbagai daerah, termasuk Jakarta.

Perubahan itu menjadi gambaran bagaimana kawasan yang sebelumnya lebih banyak menjadi tempat kapal bersandar dan nelayan beraktivitas secara tradisional mulai diarahkan menjadi sentra perikanan dari hulu hingga hilir.

Jika melihat dokumentasi kondisi Tongke-Tongke sebelum pembangunan KNMP, kawasan tersebut masih tampak sederhana. Deretan kapal nelayan bersandar di tepian sungai, sementara area daratan di sekitarnya didominasi lahan terbuka dan bangunan sederhana.


Fasilitas penunjang perikanan yang terintegrasi juga belum terlihat.

Kini, pemandangan itu berubah.

Kawasan Tongke-Tongke telah memiliki fasilitas untuk mendukung aktivitas nelayan sekaligus penanganan hasil tangkapan. Cold storage dan pabrik es menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas ikan setelah didaratkan.

Kemudian, keberadaan kendaraan berpendingin dan cool box memperkuat proses distribusi agar kualitas hasil tangkapan tetap terjaga sebelum mencapai pasar.

Dari Kapal Nelayan hingga Pasar Jakarta

Perubahan ini menjadi penting bagi Tongke-Tongke karena tuna merupakan salah satu komoditas utama hasil tangkapan nelayan setempat.

Dengan adanya fasilitas pengolahan, hasil tangkapan tidak hanya berhenti pada aktivitas pendaratan ikan. Tuna dan hasil laut lainnya dapat diproses di UPI KNMP sebelum didistribusikan ke sejumlah daerah. Termasuk Jakarta.

Artinya, aktivitas ekonomi di kawasan tersebut mulai membentuk rantai yang lebih panjang: nelayan menangkap ikan, hasil didaratkan, ikan ditangani dengan rantai dingin, diproses, kemudian didistribusikan menuju pasar.

Inilah yang membedakan konsep KNMP dari sekadar pembangunan kawasan fisik.

Trenggono Ingin Hapus Stigma Pelabuhan Kotor dan Bau. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sejak awal mendorong pembenahan kawasan pelabuhan perikanan di Indonesia.

Menurut Trenggono, pelabuhan perikanan selama ini masih kerap identik dengan persoalan kebersihan dan bau.

“Sekarang ini pelabuhan perikanan identik dengan kotor dan bau, sehingga perlu pembenahan menyeluruh untuk mengubah stigma tersebut,” kata Trenggono beberapa waktu lalu, dikutip Jumat (25/9/2026).

Karena itu, penataan kawasan KNMP tidak hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga bagaimana kawasan tersebut dapat menjadi lingkungan yang lebih bersih sekaligus mendukung produktivitas masyarakat nelayan.

Tongke-Tongke menjadi salah satu gambaran perubahan tersebut.

Kawasan yang sebelumnya terlihat sederhana kini mulai memiliki fasilitas yang menghubungkan aktivitas nelayan dengan proses penanganan, pengolahan, hingga distribusi hasil perikanan.

Dari tepian sungai tempat kapal-kapal nelayan bersandar, Tongke-Tongke kini diarahkan menjadi kawasan perikanan yang lebih bersih, tertata dan terintegrasi.

Dan yang paling penting, perubahan itu tidak berhenti pada tampilan kawasan.

Ikan yang ditangkap nelayan kini memiliki jalan lebih panjang—dari laut, masuk ke rantai dingin, diproses di kawasan sendiri, hingga dikirim menuju pasar seperti Jakarta. (*)

Komentar

Berita Terkini